Agen Obat QnC Jelly Gamat Kota Ambon

Warga / masyarakat kota Ambon, Anda biasa membeli obat QnC Jelly Gamat original dari Tasikmalaya agen Aryanto Herbal kini tidak perlu khawatir karena kami sudah punya agen penjual obat QnC Jelly Gamat disana. Terjamin, agen kami terverifikasi, dan menjual produk 100% asli.

Agen Obat QnC Jelly Gamat Kota Ambon

Anda bisa mendatangi langsung alamat agen kami di kota Ambon, berikut adalah data selengkapnya.

Nepamekar Herbal
Alamat. : Desa Batu merah Rt.001/Rw 03 karang taruna kecamatan Sirimau kota ambon lorong flamboyan.
Nomor yang bisa dihubungi : 0813-4314-0792 / 0812-4738-4302 (keduanya bisa sms/tlp dan wa).

Harap menghubungi agen terlebih dahulu untuk menanyakan ketersediaan stok dari obat QnC Jelly Gamat. Jika kebetulan sedang kosong, Anda tetap bisa membeli obat QnC Jelly Gamat sekarang juga dengan mengirim pesan langsung melalui agen Aryanto Herbal Tasikmalaya, dengan format pemesanan yang bisa dilihat di laman CARA PEMESANAN berikut. Informasi lengkap beserta daftar harganya.

Posted by Anak Kita Sehat.

Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes?

Penderita Diabetes identik dengan membatasi mengurangi konsumsi makanan mengandung gula atau bersifat manis. Hal ini diakrenakan jenis makanan tersebut akan menyebabkan lonjakan gula darah di dalam tubuh penderitanya.

Bagaimana dengan madu? Cairan manis ini telah terbukti ampuh dalam membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan dan manfaatnya sangat baik jika dikonsumsi oleh tubuh. Namun, apakah hal yang sama juga berlaku pada penderita Diabetes?

Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes?

Madu dianggap sebagai alternatif gula yang lebih sehat. Akan tetapi, jika keduanya dibandingkan, baik gula dan madu sama-sama mengandung fruktosa dan glukosa dalam jumlah 1:1. Perbedaannya adalah madu mengandung lebih banyak zat gizi dibandingkan gula, diantaranya kalsium, zat besi, vitamin C, vitamin B, magnesium, fosfor, zink, dan kalium. Selain itu, madu juga mengandung protein, dimana zat ini tidak ditemukan pada gula.

Namun apakah ini berarti jika madu aman dikonsumsi oleh penderita Diabetes? Dalam sebuah penelitian disebutkan jika penderita Diabetes yang mengonsumsi madu dapat mengalami kenaikan gula darah yang lebih tinggi di 30 menit pertama. Akan tetapi, kadar gula darah yang tinggi tersebut akan turun lebih cepat dan bertahan di angka yang rendah selama dua jam berikutnya. Namun sayangnya, penelitian tersebut tak dapat dijadikan acuan. Ini karena para ahli masih menemukan hasil penelitian yang saling bertolak belakang.

Dalam penelitian lain yang dilakukan selama kurang lebih delapan minggu menemukan jika penambahan madu dalam diet penderita Diabetes dapat memperbaiki kadar gula darah jangka pendek. Sementara itu, penelitian lainnya menemukan jika penambahan madu dalam diet penderita Diabetes malah memperburuk kadar gula darah jangka panjang. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, studi lain yang dilakukan pada 2014 justru menyatakan jika kombinasi madu dengan obat pengontrol gula darah memiliki keuntungan tersendiri. Madu diyakini dapat melengkapi pengobatan Diabetes, karena kaya akan antioksidan, membantu mengelola kadar gula darah dan turut meningkatkan produksi insulin.

Jadi, kesimpulan yang bisa didapat tentang Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes? Jawabannya tergantung pada beberapa faktor. Misalnya, jumlah madu yang dikonsumsi, keadaan kontrol gula darah, dan sebagainya.

Baca juga :

Mitos Tentang Buah-buahan Yang Harusnya Tidak Kita Percayai

Buah-buahan dijadikan sebagai salah satu makanan pendukung pola hidup sehat selain sayuran, daging, susu dan lainnya. Untuk itu, agar Anda mendapatkan manfaat nutrisi sehat dari buah, pakar kesehatan menyarankan kita untuk rutin mengonsumsi buah-buahan.

Mitos Tentang Buah-buahan Yang Harusnya Tidak Kita Percayai

Namun sayangnya, ada begitu banyak mitos yang berkembang tentang makan buah yang tidak sesuai dengan fakta medis. Dikutip dari laman dokter sehat, dibawah ini adalah beberapa mitos tentang buah-buahan yang mulai sekarang tidak boleh kita percayai.

  • Buah sebaiknya dimakan saat perut masih kosong.

Banyak orang yang berpikir jika makan buah setelah makan dapat memicu gangguan pencernaan dan membuat nutrisi dari buah atau makanan lain yang kita konsumsi tidak benar-benar diserap dengan baik. Padahal, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.
Satu-satunya efek yang akan dipicu oleh buah-buahan jika kita mengonsumsinya setelah makan adalah memperlambat pencernaan dan hal ini justru bisa membuat perut kenyang dalam waktu yang lama sehingga kita tidak mudah tertarik untuk ngemil.

  • Buah segar jauh lebih bernutrisi dibandingkan buah beku.

Karena dibekukan, banyak orang yang berpikir jika nutrisi pada buah akan menurun. Padahal, menurut pakar kesehatan hal ini tidak benar adanya. Buah beku sama sekali tidak mengalami penurunan nutrisi jika dibandingkan dengan buah segar.

  • Penderita diabetes tidak boleh makan buah.

Pakar kesehatan menyebutkan jika buah-buahan kaya akan antioksidan dan serat yang bisa menyehatkan tubuh dan membuat perut kenyang. Buah adalah salah satu makanan yang sebaiknya dikonsumsi oleh penderita Diabetes. Hanya saja, ada baiknya penderita diabetes berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter agar bisa tenang saat mengonsumsinya.

  • Jus buah sama sehatnya dengan makan buah segar.

Banyak jus buah kemasan atau yang dijual di pinggir jalan yang ternyata ditambahi dengan gula. Selain itu, kandungan serat alami pada buah juga banyak yang menghilang saat buah diolah menjadi jus.

Obesitas Pada Ibu Hamil Berisiko Melahirkan Anak Epilepsi

Sebagian besar wanita hamil lebih memilih mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya karena alasan pemenuhan kebutuhan nutrisi agar tidak hanya sampai pada dirinya, tapi juga janin yang berada di dalam tubuhnya. Padahal, anggapan seperti itu sungguh tidak tepat. Akibatnya malah berdampak pada kenaikan berat badan (obesitas). Kondisi Obesitas pada ibu hamil dapat berisiko membuat kelahiran bayi yang terkena penyakit Epilepsi.

Obesitas Pada Ibu Hamil Berisiko Melahirkan Anak Epilepsi

Seperti yang dilansir dalam laman DokterSehat, ada sebuah penelitian yang menyebutkan jika anak yang terlahir dari ibu dengan kadar BMI antara 25-30 saat hamil berisiko terkena Epilepsi 11% lebih tinggi dari anak yang dilahirkan dari ibu yang saat hamil memiliki berat badan yang normal.

Sementara itu, jika ibu hamil mengalami obesitas tingkat 1, risiko anak terkena Epilepsi meningkat sebanyak 20%. Ibu hamil dengan obesitas tingkat 2 bisa juga meningkatkan resiko anak terkena Epilepsi hingga 30%, dan ibu hamil dengan obesitas tingkat 3 bisa meningkatkan resiko anak terkena epilepsi hingga 83%.

Pakar kesehatan dari Karolinska Instituet di Swedia menyebut jika berat badan ibu hamil ternyata sangat mempengaruhi perkembangan sel saraf pada otak janin di dalam kandungan. Obesitas sendiri bisa memicu peradangan induksi yang mengganggu perkembangan sel saraf tersebut sehingga anak pun bisa terkena epilepsi. Diketahui jika ibu hamil dengan Obesitas dapat meningkatkan resiko melahirkan bayi dengan kondisi afiksia; yaitu bayi yang saat lahir tidak mampu bernafas secara spontan dan teratur sehingga terkena masalah kekurangan oksigen.

Dengan mengetahui fakta tersebut, maka ada baiknya ibu hamil tetap menjaga berat badan agar tidak mengalami masalah Obesitas yang bisa berpengaruh buruk bagi perkembangan serta kesehatan buah hati kelak.

Posted by Anak Kita Sehat.

Waspadai Bunda Jika Bumilia Terjadi Pada Anak Anda

Gangguan makan tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, tapi juga pada anak-anak. Kondisi ini disebut paramedis sebagai Bumilia. Bumilia, gangguan makan yang lebih banyak ditemukan pada usia antara 18 – 21 tahun, membawa dampak berbahaya terutama pada masa-masa pertumbuhan. Untuk alasan inilah, sebaiknya Bumilia yang terjadi bahkan pada anak-anak harus segera mendapatkan penanganan, dan ini adalah tugas Anda sebagai orangtua.

Waspadai Bunda Jika Bumilia Terjadi Pada Anak Anda

Penyebab Bulimia pada anak.

Anak yang mengalami Bulimia nervosa, cenderung memiliki dorongan ketagihan atau ngidam makanan yang tidak bisa dilawan, sehingga mereka justru senang dan sering makan dalam porsi besar (tanda binge eating). Walaupun demikian, anak Bulimia juga memiliki kecenderungan takut gemuk. Untuk mencegah berat badan naik setelah makan, anak biasanya akan sengaja memuntahkan kembali makanannya. Hal tersebut bisa dicapai dengan mencolokkan jari ke tenggorokan sendiri agar benar-benar muntah, menggunakan obat pencahar berlebihan, puasa berkala, dan mengonsumsi obat penekan nafsu makan.

Bulimia sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, citra tubuh yang negatif, stres berat, dan lainnya. Bulimia pada anak juga dapat dipicu akibat tekanan mental dari lingkungan sosial (teman sebaya dan pengaruh media massa), hingga faktor genetik. Memiliki anggota keluarga yang juga mengalami Bulimia dapat meningkatkan risiko seseorang juga mengalami gangguan makan tersebut.

Tanda-tanda Bumilia pada anak dapat terlihat dari beberapa poin dibawah ini.
  • Terlalu banyak makan, lebih dari porsi biasanya. Pada anak remaja mereka akan tiba-tiba mengonsumsi lebih banyak makanan saat makan malam atau saat ngemil (waktunya singkat dan terbatas), ini bisa menjadi kecenderungan binge eating.
  • Merasa tidak mampu mengendalikan atau berhenti makan begitu mulai.
  • Terus makan meski sudah merasa kekenyangan.
  • Mengekspresikan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan tentang berat badan atau bentuk tubuhnya.
  • Mengalami perasaan bersalah, malu atau cemas setelah makan.
  • Perilaku makan yang rahasia. Anak bulimia sering merasa malu dengan perilaku makan mereka, jadi waktu makan bisa memicu stres. Jika remaja
  • Anda memiliki perilaku tertutup saat harus makan, seperti menimbun makanan atau lebih memilih makan sendiri, ini bisa menjadi indikasi adanya masalah.
  • Sering muntah.
  • Melewatkan waktu makan atau melakukan diet ekstrem untuk ‘memperbaiki’ perilaku makan berlebihannya.
    Penggunaan pil diet atau obat pencahar yang tidak normal untuk pengendalian berat badan.
  • Menstruasi tidak teratur
  • Kelenjar dalam mulut bengkak
  • Berat badan naik-turun dengan cepat yang disebabkan oleh periode makan
  • berlebihan dan kemudian puasa
  • Bengkak di wajah (di bawah pipi), pecah pembuluh darah di mata, erosi enamel dan kerusakan gigi, kerusakan esofagus, dan pendarahan internal
    Upaya berulang untuk mengurangi berat badan dengan langkah-langkah yang berlebihan
  • Olahraga berlebihan, pada waktu atau dengan cara yang tidak tepat, atau bahkan saat sakit atau terluka. (halosehat).

Anak yang mengalami Bulimia pada umumnya terlihat normal dengan berat badan yang termasuk kategori gemuk, normal hingga terlalu kurus. Namun, risiko malnutrisi sangat besar akibat masalah kesehatan mental dan gangguan pola makan dan cenderung sulit untuk dikenali. Anak yang mengalami Bulimia kemungkinan memiliki tanda fisik yang dapat dikenali seperti :

  • Muka terlihat bengkak akibat pembengkakan kelenjar parotid yang berada di dekat telinga.
  • Terdapat bekas luka parut di sekitar tangan akibat sering memasukan jari atau tangan ke dalam rongga mulut.
  • Terjadi kerusakan mulut dan gigi yang disebabkan paparan cairan asam lambung ketika memuntahkan makanan, hal ini juga dapat menyebabkan abrasi pada saluran cerna esophagus.
  • Pada anak perempuan mereka tidak memiliki siklus menstruasi yang teratur.
  • Berat badan naik-turun drastis dan tidak teratu akibat pola makan yang buruk
  • Bulimia juga menyebabkan pengidapnya menyembunyikan kebiasaannya dan tidak mencari pertolongan karena merasa bersalah dan malu.
  • Kebiasaan tersebut juga dapat dilihat dari perilaku menarik diri dari lingkungan sekitar. Akibatnya menyebabkan anak dengan bulimia berisiko mengalami gangguan perkembangan pada masa remaja serta menekan potensi inteligensia dan kreativitas yang mereka miliki.
Bagaimana mengatasi anak yang memiliki kecenderungan terhadap Bumilia?
  • Perhatikan kondisi anak

Dengan mengenali lebih dalam hal yang menyebabkan anak mengalami gangguan makan adalah langkah awal yang penting. Dengarkan ketika anak bercerita atau sedang menceritakan sesuatu, pemilihan kata atau nada yang menjadi lebih pelan kemungkinan bisa menjadi pertanda ketika mereka mengalami masalah dengan topik yang sedang dibicarakan. Perhatikan pola makan dan ajak bicara jika Anda mengetahui anak sering memuntahkan makanan atau sengaja melewatkan jam makan mereka. Perhatikan lingkungan sosial dan media atau website yang mereka akses kemungkinan dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan makan.

  • Perbaiki suasana ketika makan.

Anda dapat dilakukan dengan menciptakan suasana makan yang menyenangkan bersama keluarga. Hal ini juga dapat menekankan pentingnya pola makan dan kecukupan nutrisi bagi kesehatan sehingga dapat memperbaiki pandangan anak terhadap makanan.

  • Berikan contoh pada anak.

Orang dewasa sangat berpengaruh dalam membentuk pemahaman pentingnya memilih makanan sehat dan pandangan yang baik terhadap tubuh yang dimiliki oleh anak. Hindari pembicaraan yang dapat memunculkan rasa tidak nyaman bagi anak akan tubuhnya. Sebaliknya ketika anak merasa tidak nyaman atau memiliki pemikiran negatif akan tubuh yang dimilikinya bicarakan olahraga dan pola makan dalam konteks kesehatan. Dorongan orang tua agar anak aktif beraktivitas fisik dan memiliki pola makan yang sehat sangat dibutuhkan.

  • Bantuan terapi psikologis.

Terapi perilaku kognitif dapat menjadi pilihan selanjutnya untuk mengurangi intensitas perilaku Bulimia. Terapis juga akan mencoba untuk menyelesaikan masalah lainnya yang berkaitan dengan munculnya perilaku bulimia seperti pemikiran negatif berat badan dan bentuk tubuh, pemikiran irasional akan pola makan dan berat badan serta meningkatkan pengendalian diri dan memperbaiki pandangan anak terhadap tubuh mereka.

  • Pengobatan.

Tahap akhir yaitu ditujukan pada komplikasi dari Bulimia seperti munculnya aritmia dan hipotensi. Perawatan di rumah sakit juga memungkinkan seorang pengindap bulimia untuk mengurangi kebiasaan yang dilakukan di rumah tanpa pengawasan. Perbaikan nutrisi dan pola makan dengan menyediakan makanan dan camilan terstruktur sangat diperlukan sehingga mereka kembali merasa tidak asing terhadap makanan, mengembalikan asupan nutrisi dan mencegah perilaku binge eating terjadi kembali lagi.

Baca juga :