“Mitos Dan Fakta” Demam Pada Anak

Selamat datang kembali pada situs anakkitasehat.com. Pada kesempatan kali ini kita mempunya pembahasan yang cukup menarik. Pada kesempatan kali ini tema yang akan dibahas adalah seputar Mitos Dan Fakta Demam Pada Anak. Ingin tahu bagaimana mitos dan fakta ini berkembang di masyarakat? Simak berikut ini.

Pemahaman mengenai mitos dan fakta demam pada anak sangat penting diketahui oleh Anda sebagai orangtua karena jika Anda memiliki pemahaman tersebut, dapat membantu Anda mengatasi demam pada anak dan mendapatkan penanganan yang lebih baik.
demam-anak

Pengertian dari demam itu sendiri adalah peningkatan suhu tubuh sebagai gejala umum yang timbul akibat seseorang terserang penyakit. Jika demam yang terjadi pada anak-anak, demam datang bukan hanya karena si anak mengalami sakit, tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor lain, misalnya saat gigi tumbuh. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui penyebab demam pada anak-anaknya, karena bisa saja demam tersebut tidak ditimbulkan oleh suatu penyakit, agar bisa dilakukan tindakan yang tepat.

Dan berikut ini adalah beberapa mitos serta fakta yang diketahui masyarakat tentang demam pada anak seperti dikutip dari blog kesehatan Indonesia.

Mitos: Jika anak anda teraba hangat, maka ia demam
Faktanya: Anak-anak dapat teraba hangat akibat berbagai sebab seperti setelah bermain, penangis kejar, keluar dari tempat tidur yang hangat, atau berada di luar ruangan yang panas. Suhu anak seharusnya akan kembali normal dalam 10 hingga 20 menit. Jika hangat bukan disebabkan oleh penyebab-penyebab ini, ukur suhu anak dengan termometer agar anda lebih yakin. Berikut adalah berbagai rentang suhu dengan menggunakan beberapa jenis pengukuran:

Termometer telinga, rectal, atau arteri temporal: 38.0 °C atau lebih.
Termometer oral: 37.8 °C atau lebih.
Termometer ketiak (aksilla): 37.2 °C atau lebih.
 
Mitos: Menggunakan air es atau alkohol untuk menurunkan demam
Faktanya: Ketika anak mengalami demam, timbul rasa tidak nyaman dikarenakan oleh suhu tubuh yang meningkat. Mengompres dengan air dingin atau alkohol dapat meningkatkan pusat pengatur suhu, badan agar suhu meningkat, akan tetapi dapat mengkibatkan badan Anak justru menjadi menggigil. Alkohol juga dapat mengakibatkan kerusakan kulit, dehidrasi berat, dan hilangnya mekanisme pendinginan tubuh oleh kulit. Gunakan air hangat untuk mengompres. Selain itu, bisa menggunakan plester kompres demam dengan salah satunya dengan teknologi hydrogel untuk memberikan efek dingin cepat pada kepala anak, serta memberikan rasa nyaman saat demam.

Obat antipiretik dan analgesik yang mengandung Parasetamol dapat membantu untuk menurunkan demam sekaligus meredakan rasa nyeri saat demam, terutama ketika mengalami demam yang belum diketahui penyebabnya.

Mitos: Semua demam buruk untuk anak
Faktanya: Demam mengaktifkan sistem imun tubuh dan merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi. Normalnya, demam berkisar antara suhu 37.8 °C-40 °C.

Mitos: Demam dapat menyebabkan kerusakan otak dan demam di atas 40 °C berbahaya
Faktanya: Demam dengan infeksi tidak menyebabkan kerusakan otak. Suhu tubuh di atas 42 °C dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini biasanya disebakan karena suhu lingkungan yang ekstrim seperti pada anak yang ditinggalkan didalam mobil pada suhu udara panas.

Mitos: Kejang demam berbahaya
Faktanya: Kejang demam memang sangat mengerikan namun biasanya berhenti dalam waktu kurang dari 5 menit. Kejang demam jarang sekali berbahaya dan tidak mengakibatkan cacat permanen, gangguan perkembangan, atau kejang tanpa demam setelahnya.

Mitos: Seluruh jenis demam harus diobati dengan obat penurun panas
Faktanya: Demam hanya perlu diobati jika mengakibatkan ketidaknyamanan. Biasanya demam menyebabkan rasa tidak nyaman jika mencapai suhu 39 atau 39.5 °C.

Mitos: Demam yang turun menunjukkan anak telah sembuh dari infeksi
Faktanya: Umumnya demam akan kembali normal selama 2 atau 3 hari, atau sampai tubuh dapat mengendalikan serangan virus, yang biasanya juga dibantu oleh obat antipiretik (penurun demam).

Mitos: Temperatur oral antara 37.1 °C-37.8 °C adalah demam ringan
Faktanya: Nyatanya suhu tubuh bervariasi sepanjang hari. Demam ringan adalah di atas dari 37.5 °C dengan di antara 37.8-39 °C.
Perlu diingat. bahwa demam bukanlah musuh melainkan usaha pertahanan tubuh terhadap infeksi. Obat penurun panas, yang mengandung parasetamol merupakan pilihan pertama untuk menurunkan demam dan meredakan rasa nyeri. Kompres air hangat di lipat ketiak dan lipat selangkangan selama 10-15 menit akan membantu menurunkan panas. Jika suhu tinggi, berikan anak obat penurun panas yang mengandung parasetamol dan juga bisa dilakukan kompres air hangat, ataupun plester kompres demam dengan teknologi hydrogel untuk memberikan rasa nyaman pada Anak saat demam.

Nah, demikianlah seputar mitos dan fakta demam pada anak, bagaimana? Kali ini Anda sudah mengeahui dengan benar perihal demam dan cara penanganan yang baik bukan?

Penyebab Cacingan Pada Anak

Selamat datang pada situs anakkitasehat.com, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi informasi mengenai penyebab cacingan pada anak. Cacingan dalam istilah sehari-hari adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan yang  diakibatkan oleh adanya cacing parasit didalam tubuh. Cacingan seringnya  disebabkan karena kurangnya kesadaran akan kebersihan yang baik terhadap diri sendiri ataupun terhadap lingkungannya. Penularan cacingan melalui larva atau telur yang tertelan dan masuk ke dalam tubuh si anak, selain itu cacing juga dapat menginfeksi bagian tubuh manapun yang disinggahi diantaranya pada usus, saluran pencernaan, otot, kulit dan paru-paru. Jenis cacing yang biasanya menjangkit pada manusia adalah cacing pita, cacing kremi, cacing gelang. Dari jenis cacing tersebut, yang paling sering menyerang anak-anak adalah jenis cacing kremi.

penyebab anak cacinganAnda sebagai orang tua mungkin bertanya-tanya mengenai bagaimana lebih tepatnya cacing ini bisa masuk kedalam tubuh anak. Lebih spesifik mengenai bagaimana cacing bisa masuk kedalam tubuh anak, yang telah saya rangkum dari situs kesehatan, diantaranya:

Daging yang terkontaminasi
Cacing bisa berkembang biak akibat telur yang terus menetas. Ada kalanya, telur tersebut hadir melalui media makanan, dan air. Salah satu makanan yang bisa saja terkontaminasi telur cacing adalah daging. Saat ini, banyak lembaga pengawas makanan yang melakukan sidak ke pasar daging dan kemudian menemukan penjual yang nakal dengan menjual daging sapi terkontaminasi cacing.

Jari yang kotor
Awasi anak Anda terutama ketika mereka sedang bermain, karena salah satu penyebab cacingan pada anak  adalah jari yang kotor. Dengan jari yang kotor serta belum dicuci bersih, maka cacing dan telurnya bisa saja masih tertinggal di jari mereka. kemudian, masuk ke mulut di saat anak makan. untuk itu, amat diajurkan melakukan pembersihan secara teratur terhadap tangan anak, dan kemudian memotong kuku anak Anda minimal seminggu sekali.

Proses memasak yang kurang baik
Jika memasak, maka masaklah makanan hingga matang. Karena, dengan makanan yang masih relatif mentah atau setengah matang, kemungkinan cacing belum mati dan masih bisa berkembang biak dengan bebas. Juga, sebelum Anda memutuskan untuk memasak suatu bahan makanan, pastikan Anda telah mencucinya dengan sangat bersih terutama untuk kategori sayuran serta daging.

Lingkungan yang kotor
Lingkungan yang kotor, akan memiliki lebih banyak bakteri, kuman, dan cacing-cacing yang berkeliaran. Untuk itu sangat penting jika kebersihan lingkungan dijaga sebaik mungkin terlebih untuk Anda yang menginginkan kesehatan untuk si kecil.

Untuk itu, para orang tua harusnya lebih mengetahui secara lebih dalam mengenai gejala penyakit cacingan, agar si kecil bisa segera mendapatkan pertolongan dan cacing tidak terlalu lama bersarang. Apa saja gejala yang dapat diperlihatkan oleh si kecil jika ia menderita cacingan? Berikut diantaranya:

1. Lesu dan lemas akibat kurang darah (anemia)
Disebabkan oleh cacing tambang, membuat tubuh menjadi lemas kekurangan darah karena dihisap cacing.

2. Berat badan rendah karena kekurangan gizi
Nutrisi yang seharusnya diserap oleh tubuh juga menjadi makanan cacing.

3. Batuk tak sembuh-sembuh
Ada juga cacing yang dapat hidup di paru-paru sehingga menyebabkan batuk yang tak sembuh-sembuh.

4. Nyeri di perut
Cacingan juga dapat menimbulkan sakit perut yang dapat menyebabkan diare.

Perilaku hidup sehat adalah cara terbaik menghindari cacingan. Karena cacing kebanyakan hidup di tanah maka hindari pula si kecil bermain tanah, sebab bisa saja cacing masuk melalui kuku jarinya.

Demikianlah, artikel mengenai Penyebab Cacingan Pada Anak yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon dimaklumi karena masih sama-sama dalam tahap belajar. Semoga dapat bermanfaat untuk Anda. Jaga selalu kesehatan keluarga terlebih anak-anak kita, penerus bangsa Indonesia!

Anak Kita Sehat

Selamat datang pada situs anakkitasehat.com, dalam kesempatan kali ini kami akan senantiasa memberikan informasi seputar kesehatan anak-anak dan hal-hal yang berhubungan lainnya seperti gangguan kesehatan hingga tips penanganan dan pengobatan yang aman untuk anak-anak. Jadi, semoga apa yang akan saya terbitkan dalam artikel selanjutnya dapat bermanfaat untuk Anda.

Salam.

Anak Kita Sehat