Ciri Anak Yang Mengalami Gangguan Pencernaan

Gangguan pada sistem pencernaan bisa terjadi pada anak. Namun sayangnya, tidak semua orangtua mengenali gangguan pencernaan dengan baik, dan tidak tepat dalam melakukan penanganannya. Untuk itu, simak selengkapnya artikel kami dibawah ini mengenai Ciri Anak Yang Mengalami Gangguan Pencernaan.

Ciri Anak Yang Mengalami Gangguan Pencernaan

Adanya gangguan pada sistem pencernaan pada anak maupun orang dewasa sebenarnya merupakan hal umum. Meskipun begitu, tetap tidak boleh disepelekan karena bisa memicu gangguan kesehatan lainnya. Terlebih jika terjadi pada anak, sistem pencernaan mereka masih belum cukup kuat dalam mengatur asupan makanan dan minuman yang mereka konsumsi, sehingga gangguan pencernaan rentan terjadi.

Dan berikut adalah ciri-ciri anak mengalami gangguan pencernaan.

  1. Mengalami sakit perut yang tidak kunjung sembuh. Gejala sakit perut yang berulang dan sakitnya lebih dari sakit perut biasa. Gangguan tersebut biasanya berlangsung lama yaitu kurang lebih 3 bulan. Penyebab dari masalah pencernaan ini adalah adanya pemicu stres serta gangguan psikologis anak.
  2. Mengalami pendarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Gejala yang terjadi pada anak biasanya dimulai dengan muntah darah dan fesesnya berwarna hitam/kehitaman. Penyebab dari gangguan ini adalah adanya denaturasi pada asam lambung dan terjadinya luka pada tukak serta duodenum yang disertai varises pada bagian kerongkongan pecah. Jika kondisi ini terjadi maka segeralah bawa anak Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang benar.
  3. Diare akibat dari alergi. Alergi karena makanan tertentu seperti susu sapi bisa juga jadi pemicu terjadinya gangguan pencernaan pada anak. Gejala yang terjadi adalah anak mengalami diare dan terkadang berdarah. Cara nencegah gangguan ini adalah dengan menghindari makanan yang dapat menyebabkan anak alergi.
  4. Terdapat gangguan seluruh sistem pencernaan. Akibat dari adanya gangguan pada seluruh fungsi sistem pencernaan sehingga mengakibatkan anak mengalami diare dan sembelit. Gejala akibat gangguan ini yaitu perubahan buang air besar pada anak sehingga anak menjadi lebih sering mengalami diare dan sembelit. Dalam pencegahannya, orangtua bisa menjauhkan makanan atau minuman yang dapat memicu gangguan tersebut.
  5. Hipertroli pylorus stenosis. Terjadi akibat penyempitan pada usus 12 jari yang diakibatkan oleh adanya penebalan pada otot dinding usus. Gejala yang ditimbulkan yaitu anak akan muntah-muntah.
  6. Mengalami peradangan di usus buntu. Gangguan ini diakibatkan oleh adanya kotoran atau sisa makanan yang terjebak dalam usus buntu. Akibatnya, malah akan memicu sakit pada perut dan sangat rentan sekali usus pecah. Gejala yang dirasakan biasanya demam, nafsu makan berkurang dan sakit perut pada area sekitar pusar. Penanganan untuk gangguan ini yaitu harus dilakukan operasi.

Demikianlah beberapa Ciri Anak Yang Mengalami Gangguan Pencernaan, semoga Anda sebagai orangtua lebih peka lagi terhadap sakit yang diderita anak. Jangan sampai terlambat penanganannya, salam sehat!

Ciri-ciri Anak Menderita Cacingan

Cacing-cacing di perut bisa berada di dalam usus anak dan tinggal di sana tanpa menunjukkan gejala apapun. Mereka diam-diam merampok Vitamin, Mineral, serta zat gizi lainnya yang sebenarnya dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Lalu apa ciri-ciri dan gejala anak cacingan yang dapat kita amati?

Jika cacingan ini terabaikan dan tidak diobati, cacingan anak dapat menyebabkan kekurangan gizi, kekurangan zat besi, berat badan rendah serta berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Jadi jika Anda bertanya-tanya bagaimana cara yang tepat dalam mengetahui apa ciri-ciri anak terkena cacing, maka simak Ciri-ciri Anak Cacingan berikut ini.

Ciri-ciri Anak Menderita Cacingan

— Sakit perut.

Sakit perut adlaah salah satu gejala umum saat anak terkena cacingan, namun sakit perut bisa juga disebabkan oleh masalah kesehatan lainnya dan inilah yang membuat orangtua bingung dan salah menafsirkan gejala. Sakit perut akibat cacingan biasanya muncul secara berulang (kambuhan) dan tidak parah, di samping itu sering kali disertai dengan gejala lainnya seperti di bawah ini.

— Mendapati rasa gatal di sekitar anus.

Gatal di sekitar anus mungkin termasuk gejala yang sangat jelas dari cacingan. Gatal pada anus terjadi ketika cacing mencapai anus untuk bertelur terutama di malam hari atau awal pagi hari sehingga hal ini akan membuat iritasi dan gatal. Gejala yang satu ini sangat menyebalkan bagi seorang anak, terutama balita dan tak jarang bisa membuat rewel bahkan mengganggu tidur.

— Tidur mereka terganggu.

Kedua gejala tersebut yaitu sakit perut dan gatal pada anus tentu akan menciptakan kegelisahan dan semua ini dapat menyebabkan tidur mereka terganggu di malam hari, dan banyak yang tidak menyadari bahwa ini merupakan satu dari sekian banyak tanda-tanda anak cacingan.

— Anak sering meludah.

Jika anak kemudian mulai meludah banyak tanpa sebab yang jelas, misalnya karena sakit tenggorokan atau amandel, kebiasaan yang merupakan tanda perangai buruk, tetapi karena meludah sering pada anak juga termasuk salah satu ciri adanya cacing di perut. Peningkatan air liur dalam mulut karena cacing membuat anak sering meludah.

— Ruam di kulit.

Dalam beberapa kasus yang sangat jarang terjadi, cacing dapat menyebabkan ruam pada kulit atau bercak merah pada tangan dan kaki.

— Feses berbau busuk.

Feses memang baunya tidak sedap, tapi bau yang sangat busuk dari feses anak bisa jadi menunjukkan infeksi di dalam perut yang bisa disebabkan oleh cacing. Namun hal ini juga bisa terjadi akibat makan-makanan tertentu, atau bahkan infeksi bakteri.

— Anemia.

Cacing yang berdiam di usus anak akan menyerap zat besi yang seharusnya di butuhkan oleh anak untuk memproduksi sel darah merah, sehingga saat anak mengalami cacigan dalam kurun waktu tertentu maka kemungkinan besar dalam menyebabkan Anemia yang ditandai dengan badan lemas dan pucat. Hal ini juga bisa terjadi karena pendarahan dalam saran cerna karena cacingan.

— Badan kurus.

Saat zat nutrisi penting yang seharusnya di gunakan anak untuk pertumbuhan dicuri oleh cacing, dan ditambah lagi gejala anak cacingan yang berupa tidak nafsu makan, maka kondisi ini akan membuat berat badan anak sulit naik dan bahkan cenderung kurus.

Baca juga : Cara Mengobati Cacingan Pada Anak

Amati jika anak-anak menunjukkan seperti Ciri-ciri Anak Menderita Cacingan diatas, cepat periksakan pada dokter untuk pertolongannya. Semoga bermanfaat.

Gejala Anak Pertanda Sakit Yang Tidak Boleh Diabaikan

Sudah menjadi kewajiban sebagai orangtua untuk mengetahui tentang kondisi kesehatan sang buah hati. Pastinya, sebagai orangtua yang sangat menyangani anak, tidak ingin kan sesuatu yang buruk terjadi? Seperti salah satunya adalah ketika anak sakit. Ketika anak sakit, mau tidak mau adalah tugas orangtua untuk tetap menemaninya, dan memberikan apa yang mereka butuhkan termasuk pengobatan.

Gejala Anak Pertanda Sakit Yang Tidak Boleh DiabaikanUntuk mengetahui kondisi anak apakah mereka baik-baik saja atau anak justru menunjukkan tanda-tanda seperti sakit secara tiba-tiba sebenarnya tidak sulit. Anda juag harus peka terhadap tanda-tanda kecil yang tidak biasa, seperti misalnya anak rewel terus, bisa jadi hal ini karena mereka demam dan terkena virus flu atau akan tumbuh gigi. Namun terkadang, gejala yang beragam justru akan membingungkan dan malah membuat orangtua tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Untuk membantu Anda memahami gejala penyakit pada anak yang bisa saja menjadi tanda penyakit serius namun terabaikan oleh orangtua, berikut ini adalah tanda-tanda atau Gejala Anak Pertanda Sakit Yang Tidak Boleh Diabaikan.

1. Demam tinggi

Anak disebut mengalami demam jika suhu tubuhnya lebih dari 38 derajat Celcius pada bayi berumur kurang dari usia 3 bulan, lebih tinggi dari 38,3 derajat Celcius pada bayi usia 3-6 bulan, atau lebih tinggi dari 39 derajat pada anak berumur 6 bulan sampai 2 tahun.

Meski perilaku anak lebih penting ketimbang angka di termometer, tetapi pada bayi berumur kurang dari 3 bulan perlu segera dibawa ke dokter jika demam. Pada bayi berumur lebih dari 2 tahun, demam tidak membutuhkan penanganan darurat selama ia tampak normal dan cukup cairan.

2. Mengalami demam cukup lama.

Waspadai demam yang tidak juga turun walau sudah diberi obat penurun panas, atau sudah berlangsung selama 5 hari. Ini merupakan tanda infeksinya terlalu kuat bagi tubuh anak untuk dilawan.

3. Demam dengan sakit kepala.

Demam yang diikuti dengan leher terasa kaku dan sakit kepala, serta ada ruam dan bintik kemerahan juga harus diwaspadai.

4. Memiliki tahi lalat yang tidak normal.

Perhatikan tahi lalat di tubuh anak, terutama jika sudah ada sejak lahir. Waspadai jika bentuk dari tahi lalat kemudian berubah, membesar, atau tampak tidak satu warna, karena itu bisa jadi pertanda potensi kanker kulit.

5. Tiba-tiba sakit perut.

Sakit perut pada bagian kanan bawah, bisa terjadi akibat radang usus buntu. Minta anak untuk berdiri dan duduk. Jika nyerinya bertambah berat kemungkinan besar memang radang usus buntu. Nyeri perut karena virus biasanya bergejala demam. Sementara usus buntu bisa menyebabkan anak muntah, sakit perut, atau diare.

6. Sakit kepala dan muntah.

Sakit kepala yang timbul pada pagi hari bisa juga disebabkan karena migrain. Pada anak, migrain biasanya tidak berbahaya dan dipengaruhi faktor keturunan. Waspadai jika sakit kepala di pagi atau tengah malam dan juga disertai muntah, karena itu bisa menandakan penyakit yang lebih serius.

7. Frekuensi buang air kecil berkurang.

Mulut dan bibir kering, frekuensi buang air kecil berkurang, kulit tampak kering dan anak mengalami diare serta muntah-muntah, adalah gejala dehidrasi. Anak harus segera mendapat asupan cairan yang cukup dan bawa ke rumah sakit segera.

8. Bibir membiru.

Warna bibir yang kebiruan dan nafasnya tampak terengah-engah, serta ada suara berat saat ia bernapas, merupakan tanda ada gangguan pada paru-parunya. Pemicunya dapat terjadi karena serangan asma, penyakit radang paru, atau juga anak menelan sesuatu.

Jika si buah hati tiba-tiba memiliki gejala seperti diatas, tidak boleh diabaikan ya bunda. Segera lakukan pemeriksaan secepatnya!

Semoga artikel diatas bermanfaat. Salam Anak Kita Sehat.

Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang Demam

Sebagian besar dari orangtua mungkin menganggap bahwa kejang demam dikaitkan dengan epilepsi, yang beresiko terhadap gangguan keterbelakangan mental sebagai efeknya. Apakah anggapan tersebut sudah benar?

Kondisi saat anak mengalami kejang demam adalah sebuah kondisi yang ditakuti oleh orangtua dan biasanya menyebabkan kepanikan. Dalam situasi seperti ini alangkah baiknya jika orangtua tetap tenang, karena kejang demam bukanlah sebuah penyakit atau tanda penakit berbahaya yang membahayakan nyawa. Oleh sebab itu sebaiknya para orangtua mengetahui apa itu kejang demam, juga bagaimana cara mengatasinya dalam pertolongan pertama yang harus dilakukan saat kejang tersebut terjadi.

Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang Demam

Gejala-gejala anak yang mengalami kejang demam cukup beragam, namun umumnya mereka bisa melalui tahap-tahapan seperti :

  • Hilangnya kesadaran dan berkeringan.
  • Kaki dan tangan kejang.
  • Demam tubuhnya tinggi.
  • Terkadang sampai mengeluarkan busa dari mulutnya ataupun muntah.
  • Mata terkadang terbalik.
  • Setelah reda, kemudian anak akan mengantuk dan tertidur.

Mengenai pemahaman dari kejang demam, terbagi kedalam 2 durasi kejang yang harus dipahami. Kejang demam sederhana yang paling umum terjadi bisa berlangsung beberapa detik atau kurang dari 15 menit. Kejang yang terjadi tersebut tidak akan terlulang kembali dalam periode 24 jam. Sebaliknya dengan kejang demam kompleks, dapat terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh dan terulang 24 jam kemudian.

Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang Demam yang dapat Anda lakukan, diantaranya :

  • Tidak menahan gerakan kejang anak Anda. Sebaiknya letakkan ia di permukaan yang aman seperti pada karpet di lantai.
  • Untuk menghindari tersedak, segera keluarkan jika ada sesuatu di dalam mulutnya saat ia kejang. Jangan taruh obat dalam bentuk apa pun di dalam mulutnya saat anak sedang kejang.
  • Untuk mencegah agar ia tak menelan muntahnya sendiri (jika terjadi), letakkan ia menyamping, bukan telentang, dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang juga ditengokkan ke salah satu sisi.
  • Hitung durasi kejang demam. Panggil ambulans atau larikan ke instalasi gawat darurat (IGD) jika kejang terjadi lebih dari 10 menit.
  • Tetap berada di dekatnya untuk menenangkannya.
  • Pindahkan benda tajam di sekitarnya.
  • Melonggarkan pakaiannya.

Nah, bagaimana? Tidak sulit bukan untuk melakukan tindakan pertolongan pertama saat anak Anda mengalami kejang demam. Yang terpenting adalah Anda sebagai orangtua tetap tenang, dan segera ambil tindakan jika kejang tidak segera berhenti.

Semoga bermanfaat. Salam, Anak Kita Sehat.

Perbedaan Penyakit Asma Pada Anak Dan Orang Dewasa

Asma merupakan salah satu jenis penyakit kronis yang menyebabkan pembengkakan serta peradangan di organ dalam tubuh, yaitu paru-paru. WHO menyebutkan bahwa lebih dari 235 juta jiwa di dunia mengidap asma. Asma juga termasuk sebuah penyakit yang umum terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya asma yang terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa sama saja. Gejala, pengobatan dan perawatan untuk keduanya juga sama. Namun pada anak-anak dengan asma merekal ebih menghadapi masalah berbeda dibandingkan dengan orang dewasa.

Lalu apa yang menjadi Perbedaan Penyakit Asma Yang Terjadi Pada Anak Dan Orang Dewasa?

Perbedaan Penyakit Asma Pada Anak Dan Orang Dewasa

Pada anak-anak yang didiagnosis memiliki asma, dapat dikenali dengan gejala asma yang tidak teratur. Terkadang alergen (pemicu alergi) dapat menyebabkan serangan asma pada anak, tapi juga terkadang tidak sama sekali terpengaruhi. Sedangkan pada orang dewasa, gejala asma dilihat lebih konsisten. Pengobatan harian biasanya dibutuhkan untuk terus mengontrol gejala juga serangan asma yang terjadi.

Anak-anak yang telah terdiagnosa asma biasanya dapat menyadari gejala-gejala asma yang selama ini kambuh mulai menghilang dan membaik selama masa pubertas. Baru sekitar usia memasuki 20 tahunan, mereka akan menyadari jiak gejala asma muncul kembali, dan dalam periode waktu lanjut bisa saja membuatnya lebih tidak tertolong dan terus hadir hingga usia pasien mencapai 30-40 tahun.

Baik asma yang terjadi pada anak maupun orang dewasa, keduanya memerlukan pengobatan. Pengobatan ini adalah pengobatan darurat dan pengobatan jangka panjang.

REKOMENDASI : Obat Asma Untuk Anak

Baca juga : Obat Radang Usus Untuk Anak