Tips Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Anak

Sudah menjadi kewajiban orangtua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anaknya. Pada usia anak, mereka masih membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak.

Salah satu kebutuhan nutrisi penting anak ada pada susu. Dengan membiasakan anak minum susu sapi, membantu memenuhi kebutuhan kalsium anak dan menjaga kesehatan tulang mereka. Selain itu, manfaat lainnya dari susu sapi untuk anak-anak adalah membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh menjadi lebih baik. Namun, diantara dari anak-anak tersebut, sebagian dari mereka memiliki alergi terhadap susu sapi. Bagaimana kondisi ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya?

Tips Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Anak

Fyi, alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa.

Menurut pengertian dan kondisi yang terjadi, alergi susu sapi adalah kondisi saat sistem imun anak mengalami respons tidak normal terhadap kandungan protein di dalam susu. Pada anak-anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi biasanya akan mengalami gejala-gejala seperti :

  • Muntah.
  • Nafas yang berbunyi (Mengi).
  • Gangguan pencernaan, dan.
  • Gatal-gatal.

Sedangkan pada intoleransi laktosa adalah saat seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mencerna laktosa (tipe gula alami pada susu). Dan biasanya mereka akan mengalami gejala seperti perut kembung, diare, kram perut bagoan bawah hingga muntah. Umumnya gejala tersebut akan muncul 30 menit hingga 2 jam terlama setelah konsumsi susu ataupun produk olahan susu lainnya.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami alergi terhadap susu sapi? Jawabannya adalah segera bawa anak ke dokter untuk tahap pemeriksaan lebih lanjut.

Jika anak memang telah dinyatakan benar menderita alergi terhadap susu sapi, Anda jangan keburu panik dulu. Lakukan beberapa hal berikut ini.

  • Hindari memberikan susu sapi ataupun makanan yang mengandung susu sapi.
  • Hindari juga produk susu dan olahannya jika si kecil masih meminum ASI. Karena protein susu yang menyebabkan alergi dapat menyatu ke dalam ASI, dan akan berbahaya jika terminum olehnya.
  • Jika Anda memberikan anak susu formula, ganti segera dengan menggunakan susu formula berbahan dasar kedelai.
  • Jika kemudian anak alergi terhadap susu kedelai, biasanya dokter akan memberikan susu formula Hypoallergenic. Pada susu formula ini, protein dipecahkan ke dalam partikel kecil sehingga kecil kemungkinannya untuk memicu alergi.

Dari sebagian penelitian menunjukkan jika anak yang tidak mengonsumsi susu sapi cenderung mengalami kekurangan Vitamin D. Namun Anda tidak perlu khawatir, Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan makanan sumber VItamin D sebagai gantinya. Makanan tersebut diantaranya adalah bayam, brokoli, produk olahan kedelai, ikan salmon, tuna, sarden, dan telur.

Selain itu, ajaklah anak bermain di luar agar tubuhnya terpapar sinar matahari. Hal ini nantinya akan membantu anak mendapatkan Vitamin D. Tetap perhatikan berapa lama anak terpapar matahari dan pada jam berapa. Dengan hanya terpapar tiga kali seminggu selama 10-15 menit, sebenarnya sudah cukup untuk membuat anak Anda mendapatkan cukup Vitamin D.

Jika anak Anda kemudian terdiagnosis memiliki alergi susu sapi, jangan menyerah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkannya. Cobalah siasati dengan lebih kreatif dalam memberikan alternatif atau makanan pengganti untuknya.

Semoga bermanfaat, salam.

Anak Kita Sehat |

Sahur Dengan Telur Ternyata Lebih Sehat Untuk Anak

Dalam dunia penelitian kesehatan terbaru terungkap jika sarapan untuk anak yang sehat tidak lain adalah dengan beberapa menu seperti sereal, oatmeal, roti dan lainnya. Namun yang paling baik dalam sarapan anak dikatakan lebih bagus dengan konsumsi telur karena telur memiliki kandungan tinggi energi dan rendah kalori.

Sahur Dengan Telur Ternyata Lebih Sehat Untuk Anak

Laman Boldsky melansir baru-baru ini bahwa para peneliti mengatakan identifikasi makanan untuk anak sebenarnya tidaklah sulit. Cukup dengan asupan protein rendah karbohidrat sehingga mencegah obesitas pada anak.

Dalam studi tersebut, para peneliti mempelajari bagaimana perilaku makan dari 40 anak yang berusia rata rata 8 sampai 10 tahun. Sebagian dari mereka mengkonsumsi telur untuk sarapan, dan sisanya adalah roti, oatmeal dan sereal. Setelah sarapan, anak-anak ini kemudian diperbolehkan untuk bermain game dan diamati perilakunya selama tiga minggu.

Dan hasilnya cukup menarik, anak-anak yang makan telur saat sarapan makan 70 kalori lebih sedikit pada siang hari dibandingan mereka yang sarapan lain. Secara keseluruhan, kebutuhan kalori untuk anak-anak sekitar 1.500-1.800 kalori. Jadi jika dia hanya mengonsumsi 70 kalori lebih rendah tentu akan menjauhinya dari risiko obesitas yang berujung pada penyakit. Mengonsumsi lebih banyak protein lebih baik ketimbang karbohidrat.

Posted by Anak Kita Sehat

Cara Melatih Anak Agar Mau Berpuasa

Bunda, puasa pada anak terutama anak balita, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan jika tidak ikut puasa. Namun alangkah baiknya jika di usia demikian, anak-anak mulai diajari bagaimana berpuasa, agar ketika semakin besar terbiasa walaupun hanya dalam beberapa jam, atau setengah hari.

Anak pada umumnya memang terbiasa dengan pola makan sehari-hari dan ngemil di waktu-waktu tertentu. Inilah yang menyebabkan belajar berpuasa akan mengubah kebiasaan mereka. Tidak hanya perubahan perilaku, ibadah puasa juga membutuhkan perubahan kesadaran pada anak. Biasanya anak masih terarah pada pemuasan kesenangan. Namun saat Anda mengajarkannya berpuasa, anak belajar menahan diri. Itulah sebabnya melatih anak berpuasa perlu memperhatikan kesiapan fisik maupun psikologis mereka.

Lalu, bagaimana cara melatih anak agar ikut berpuasa dengan baik dan benar?

Cara Melatih Anak Agar Mau Berpuasa

Berikut adalah tips yang dapat dimanfaatkan Ayah maupun Ibu dalam melatih anak berpuasa.

1. Ceritakan Makna dari Puasa.

Melatih anak berpuasa dapat diawali dengan bercerita kepada mereka tentang makna puasa itu sendiri. Ayah Ibu dapat mengemasnya dalam berbagai cerita yang menarik, termasuk pengalaman Ayah Ibu berpuasa saat masih kecil.

2. Jelaskan Pengertian Puasa.

Anak bisa menerima perubahan jika ia siap menghadapi perubahan tersebut, termasuk saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, Ibu dan ayah perlu menjelaskan pengertian puasa dan mengingatkan pada anak beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai. Gunakan kata-kata sederhana pada anak yang baru memulai pertama kali belajar puasa, seperti tidak makan dan tidak minum setelah sahur sampai waktu berbuka. Ceritakan juga apa saja yang Ayah Ibu lakukan di rumah saat berpuasa, agar anak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Ekspresikan ibadah puasa dengan positif dan menyenangkan, sehingga anak tertarik melakukannya juga.

3. Tawarkan Anak untuk Belajar Berpuasa.

Saat makna dan pengertian puasa telah disampaikan kepada anak, Ibu dan ayah dapat menawarkan anak berpuasa untuk pertama kalinya. Tidak dengan memerintah, namun cobalah dengan menawarkan sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan. Mengajak anak dengan cara yang menyenangkan itu seperti saat mengajak anak bermain. Mengajak anak dengan cara yang membanggakan itu seperti menantangnya melakukan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Pesannya tetap sama, mengajak anak belajar berpuasa.

4. Ciptakan Suasana Berpuasa yang Lebih Menyenangkan.

Selain kesadaran diri, anak juga akan melihat bagaimana orangtuanya berpuasa. Menciptakan suasana berpuasa yang menyenangkan dapat membuat anak ingin bergabung. Ibu dan ayah dapat memulainya dengan sahur yang menyenangkan, dengan persiapan dan waktu yang tidak terburu-buru. Lakukan sahur dengan gembira dan penuh syukur agar anak pun menikmati sahur, dan tidak melihat orangtuanya lesu. Selama seharian berpuasa, tunjukkan pada anak bahwa Ibu dan ayah pun dapat melakukan berbagai kegiatan dengan semangat meskipun tidak makan dan tidak minum.

5. Menyiapkan Makanan yang Tepat.

Makanan yang tepat untuk anak yang belajar berpuasa itu sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Siapkan makanan kesukaan anak yang sekaligus bisa memenuhi kebutuhan energinya. Jika memungkinkan, sajikan di piring favorit anak agar anak semangat makan saat sahur dan buka puasa.

6. Apresiasi Tiap Pencapaian Anak.

Saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya, ia mungkin tak langsung berhasil berpuasa sehari penuh. Anak mungkin hanya bisa bertahan sampai pukul 9 pagi, 12 siang, atau 3 sore. Seberapapun pencapaian anak, beri apresiasi bahwa anak telah berusaha, dari belum pernah berpuasa menjadi berpuasa selama beberapa jam. Saat anak berhasil berpuasa lebih lama di hari berikutnya, apresiasi kemajuannya. Apresiasi adalah upaya menumbuhkan perilaku positif anak, termasuk saat anak belajar berpuasa. Gunakan kata-kata positif yang mengacu pada perilaku spesifik. Jangan menjanjikan hadiah pada anak. Pemberian hadiah hanya akan membuat kenikmatan berpuasa berpindah menjadi kenikmatan mendapat hadiah. (Sumber:temantakita).

Makanan Sehat Untuk Penderita Radang Amandel

Sakit amandel yang terjadi pada anak, atau orang dewasa lainnya bisa menyebabkan seseorang mengalami kondisi tidak menyenangkan akibat dari amandel. Salah satunya adalah kesulitan dalam menelan makanan, bernafas dan rasa sakit di tenggorokan.

Kuncinya adalah mengkonsumsi makanan-makanan yang lembut dan menyehatkan untuk penderita radang amandel dalam membantu mengatasi kesulitan dalam menelan makanan pada penderita. Dan berikut adalah Makanan Sehat Untuk Penderita Radang Amandel, seperti yang telah dilansir laman Boldsky, antara lain :

Makanan Sehat Untuk Penderita Radang Amandel

1. Kentang tumbuk.

Kentang tumbuk termasuk makanan yang direkomendasikan untuk penderita radang amandel karena makanan tersebut sangat efektif dalam membantu menyembuhkan tonsilitis/amandel. Kentang tumbuk juga membuat kenyang lebih lama lho.

2. Bayam.

Dengan mengkonsumsi sayur Bayam bisa menyembuhkan infeksi tenggorokan. Oh ya, beri sedikit bubuk lada hitam. Selain lezat, sayur bayam juga dapat menyembuhkan tenggorokan yang gatal dan sakit akibat amandel.

3. Bubur.

Bubur jelas adalah makanan yang lebih mudah ditelan dibanding nasi biasa. Anda juga dapat menambahkan rempah-rempah seperti cengkeh untuk menyembuhkan radang amandel.

Baca juga : Obat Untuk Mengecilkan Amandel Anak

Semoga artikel diatas dapat bermanfaat untuk Anda. Salam!

Posted by Anak Kita Sehat

Cara Menjaga Anak Agar Tidak Gampang Sakit

Beberapa anak dianugrahi sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga tidak mudah sakit. Hal ini bisa saja karena kedua orangtua mereka menerapkan pola hidup sehat pada kehidupan mereka, dan juga lingkungan. Namun sebagian dari anak-anak juga rentan sekali menderita sakit. Entah karena pergantian musim, tertular teman atau keluarga karena sistem kekebalan tubuhnya yang lemah.

Menjaga kesehatan anak agar tidak mudah sakit sebenarnya mudah saja, Anda dapat menerapkan beberapa gaya hidup sehat yang diantaranya meliputi :

Cara Menjaga Anak Agar Tidak Gampang Sakit

1. Mengatur pola makan.

Pola makan yang di maksud adalah tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi, Vitamin dan lainya tercukupi dengan makanan 4 sehat 5 sempurna. Selain itu, porsi makanan setiap harinya harus pas, tidak berlebihan atau kurang.

2. Menjaga kebersihannya.

Dalam keadaan kotor kuman serta bibit penyakit dapat dengan mudah berkembang biak, maka dari itu adalah tugas Anda sebagai orang tua WAJIB menjaga kebersihannya seperti :

  • Menjaga kebersihan dan kesehatan giginya.
  • Menjaga kebersihan kuku dan anggota tubh yang lainya.
  • Menjaga kebersihan pakaiannya.

3. Istirahat yang cukup.

Istirahat merupakan sebuah proses untuk meringankan beban otak, selain itu dengan beristirahat pertumbuhan tubuh anak yang terjadi saat mereka tidur akan semakin optimal. Pastikan untuk anak-anak Anda tidur 8 jam sehari.

4. Tanggap bertindak.

Dengan tanggap bertindak maksudnya Anda harus cepat menanganinya jika anak mengelami gejala seperti sakit kepala, batuk, demam atau penyakit lainya agar tidak terlambat.

Semoga bermanfaat. | Cara Menjaga Anak Agar Tidak Gampang Sakit