Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes?

Penderita Diabetes identik dengan membatasi mengurangi konsumsi makanan mengandung gula atau bersifat manis. Hal ini diakrenakan jenis makanan tersebut akan menyebabkan lonjakan gula darah di dalam tubuh penderitanya.

Bagaimana dengan madu? Cairan manis ini telah terbukti ampuh dalam membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan dan manfaatnya sangat baik jika dikonsumsi oleh tubuh. Namun, apakah hal yang sama juga berlaku pada penderita Diabetes?

Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes?

Madu dianggap sebagai alternatif gula yang lebih sehat. Akan tetapi, jika keduanya dibandingkan, baik gula dan madu sama-sama mengandung fruktosa dan glukosa dalam jumlah 1:1. Perbedaannya adalah madu mengandung lebih banyak zat gizi dibandingkan gula, diantaranya kalsium, zat besi, vitamin C, vitamin B, magnesium, fosfor, zink, dan kalium. Selain itu, madu juga mengandung protein, dimana zat ini tidak ditemukan pada gula.

Namun apakah ini berarti jika madu aman dikonsumsi oleh penderita Diabetes? Dalam sebuah penelitian disebutkan jika penderita Diabetes yang mengonsumsi madu dapat mengalami kenaikan gula darah yang lebih tinggi di 30 menit pertama. Akan tetapi, kadar gula darah yang tinggi tersebut akan turun lebih cepat dan bertahan di angka yang rendah selama dua jam berikutnya. Namun sayangnya, penelitian tersebut tak dapat dijadikan acuan. Ini karena para ahli masih menemukan hasil penelitian yang saling bertolak belakang.

Dalam penelitian lain yang dilakukan selama kurang lebih delapan minggu menemukan jika penambahan madu dalam diet penderita Diabetes dapat memperbaiki kadar gula darah jangka pendek. Sementara itu, penelitian lainnya menemukan jika penambahan madu dalam diet penderita Diabetes malah memperburuk kadar gula darah jangka panjang. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, studi lain yang dilakukan pada 2014 justru menyatakan jika kombinasi madu dengan obat pengontrol gula darah memiliki keuntungan tersendiri. Madu diyakini dapat melengkapi pengobatan Diabetes, karena kaya akan antioksidan, membantu mengelola kadar gula darah dan turut meningkatkan produksi insulin.

Jadi, kesimpulan yang bisa didapat tentang Bolehkah Madu Dikonsumsi Penderita Diabetes? Jawabannya tergantung pada beberapa faktor. Misalnya, jumlah madu yang dikonsumsi, keadaan kontrol gula darah, dan sebagainya.

Baca juga :

Mitos Tentang Buah-buahan Yang Harusnya Tidak Kita Percayai

Buah-buahan dijadikan sebagai salah satu makanan pendukung pola hidup sehat selain sayuran, daging, susu dan lainnya. Untuk itu, agar Anda mendapatkan manfaat nutrisi sehat dari buah, pakar kesehatan menyarankan kita untuk rutin mengonsumsi buah-buahan.

Mitos Tentang Buah-buahan Yang Harusnya Tidak Kita Percayai

Namun sayangnya, ada begitu banyak mitos yang berkembang tentang makan buah yang tidak sesuai dengan fakta medis. Dikutip dari laman dokter sehat, dibawah ini adalah beberapa mitos tentang buah-buahan yang mulai sekarang tidak boleh kita percayai.

  • Buah sebaiknya dimakan saat perut masih kosong.

Banyak orang yang berpikir jika makan buah setelah makan dapat memicu gangguan pencernaan dan membuat nutrisi dari buah atau makanan lain yang kita konsumsi tidak benar-benar diserap dengan baik. Padahal, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.
Satu-satunya efek yang akan dipicu oleh buah-buahan jika kita mengonsumsinya setelah makan adalah memperlambat pencernaan dan hal ini justru bisa membuat perut kenyang dalam waktu yang lama sehingga kita tidak mudah tertarik untuk ngemil.

  • Buah segar jauh lebih bernutrisi dibandingkan buah beku.

Karena dibekukan, banyak orang yang berpikir jika nutrisi pada buah akan menurun. Padahal, menurut pakar kesehatan hal ini tidak benar adanya. Buah beku sama sekali tidak mengalami penurunan nutrisi jika dibandingkan dengan buah segar.

  • Penderita diabetes tidak boleh makan buah.

Pakar kesehatan menyebutkan jika buah-buahan kaya akan antioksidan dan serat yang bisa menyehatkan tubuh dan membuat perut kenyang. Buah adalah salah satu makanan yang sebaiknya dikonsumsi oleh penderita Diabetes. Hanya saja, ada baiknya penderita diabetes berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter agar bisa tenang saat mengonsumsinya.

  • Jus buah sama sehatnya dengan makan buah segar.

Banyak jus buah kemasan atau yang dijual di pinggir jalan yang ternyata ditambahi dengan gula. Selain itu, kandungan serat alami pada buah juga banyak yang menghilang saat buah diolah menjadi jus.

Tips Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Anak

Sudah menjadi kewajiban orangtua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anaknya. Pada usia anak, mereka masih membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak.

Salah satu kebutuhan nutrisi penting anak ada pada susu. Dengan membiasakan anak minum susu sapi, membantu memenuhi kebutuhan kalsium anak dan menjaga kesehatan tulang mereka. Selain itu, manfaat lainnya dari susu sapi untuk anak-anak adalah membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh menjadi lebih baik. Namun, diantara dari anak-anak tersebut, sebagian dari mereka memiliki alergi terhadap susu sapi. Bagaimana kondisi ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya?

Tips Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Anak

Fyi, alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa.

Menurut pengertian dan kondisi yang terjadi, alergi susu sapi adalah kondisi saat sistem imun anak mengalami respons tidak normal terhadap kandungan protein di dalam susu. Pada anak-anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi biasanya akan mengalami gejala-gejala seperti :

  • Muntah.
  • Nafas yang berbunyi (Mengi).
  • Gangguan pencernaan, dan.
  • Gatal-gatal.

Sedangkan pada intoleransi laktosa adalah saat seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mencerna laktosa (tipe gula alami pada susu). Dan biasanya mereka akan mengalami gejala seperti perut kembung, diare, kram perut bagoan bawah hingga muntah. Umumnya gejala tersebut akan muncul 30 menit hingga 2 jam terlama setelah konsumsi susu ataupun produk olahan susu lainnya.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami alergi terhadap susu sapi? Jawabannya adalah segera bawa anak ke dokter untuk tahap pemeriksaan lebih lanjut.

Jika anak memang telah dinyatakan benar menderita alergi terhadap susu sapi, Anda jangan keburu panik dulu. Lakukan beberapa hal berikut ini.

  • Hindari memberikan susu sapi ataupun makanan yang mengandung susu sapi.
  • Hindari juga produk susu dan olahannya jika si kecil masih meminum ASI. Karena protein susu yang menyebabkan alergi dapat menyatu ke dalam ASI, dan akan berbahaya jika terminum olehnya.
  • Jika Anda memberikan anak susu formula, ganti segera dengan menggunakan susu formula berbahan dasar kedelai.
  • Jika kemudian anak alergi terhadap susu kedelai, biasanya dokter akan memberikan susu formula Hypoallergenic. Pada susu formula ini, protein dipecahkan ke dalam partikel kecil sehingga kecil kemungkinannya untuk memicu alergi.

Dari sebagian penelitian menunjukkan jika anak yang tidak mengonsumsi susu sapi cenderung mengalami kekurangan Vitamin D. Namun Anda tidak perlu khawatir, Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan makanan sumber VItamin D sebagai gantinya. Makanan tersebut diantaranya adalah bayam, brokoli, produk olahan kedelai, ikan salmon, tuna, sarden, dan telur.

Selain itu, ajaklah anak bermain di luar agar tubuhnya terpapar sinar matahari. Hal ini nantinya akan membantu anak mendapatkan Vitamin D. Tetap perhatikan berapa lama anak terpapar matahari dan pada jam berapa. Dengan hanya terpapar tiga kali seminggu selama 10-15 menit, sebenarnya sudah cukup untuk membuat anak Anda mendapatkan cukup Vitamin D.

Jika anak Anda kemudian terdiagnosis memiliki alergi susu sapi, jangan menyerah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkannya. Cobalah siasati dengan lebih kreatif dalam memberikan alternatif atau makanan pengganti untuknya.

Semoga bermanfaat, salam.

Anak Kita Sehat |

Sahur Dengan Telur Ternyata Lebih Sehat Untuk Anak

Dalam dunia penelitian kesehatan terbaru terungkap jika sarapan untuk anak yang sehat tidak lain adalah dengan beberapa menu seperti sereal, oatmeal, roti dan lainnya. Namun yang paling baik dalam sarapan anak dikatakan lebih bagus dengan konsumsi telur karena telur memiliki kandungan tinggi energi dan rendah kalori.

Sahur Dengan Telur Ternyata Lebih Sehat Untuk Anak

Laman Boldsky melansir baru-baru ini bahwa para peneliti mengatakan identifikasi makanan untuk anak sebenarnya tidaklah sulit. Cukup dengan asupan protein rendah karbohidrat sehingga mencegah obesitas pada anak.

Dalam studi tersebut, para peneliti mempelajari bagaimana perilaku makan dari 40 anak yang berusia rata rata 8 sampai 10 tahun. Sebagian dari mereka mengkonsumsi telur untuk sarapan, dan sisanya adalah roti, oatmeal dan sereal. Setelah sarapan, anak-anak ini kemudian diperbolehkan untuk bermain game dan diamati perilakunya selama tiga minggu.

Dan hasilnya cukup menarik, anak-anak yang makan telur saat sarapan makan 70 kalori lebih sedikit pada siang hari dibandingan mereka yang sarapan lain. Secara keseluruhan, kebutuhan kalori untuk anak-anak sekitar 1.500-1.800 kalori. Jadi jika dia hanya mengonsumsi 70 kalori lebih rendah tentu akan menjauhinya dari risiko obesitas yang berujung pada penyakit. Mengonsumsi lebih banyak protein lebih baik ketimbang karbohidrat.

Posted by Anak Kita Sehat

Cara Melatih Anak Agar Mau Berpuasa

Bunda, puasa pada anak terutama anak balita, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan jika tidak ikut puasa. Namun alangkah baiknya jika di usia demikian, anak-anak mulai diajari bagaimana berpuasa, agar ketika semakin besar terbiasa walaupun hanya dalam beberapa jam, atau setengah hari.

Anak pada umumnya memang terbiasa dengan pola makan sehari-hari dan ngemil di waktu-waktu tertentu. Inilah yang menyebabkan belajar berpuasa akan mengubah kebiasaan mereka. Tidak hanya perubahan perilaku, ibadah puasa juga membutuhkan perubahan kesadaran pada anak. Biasanya anak masih terarah pada pemuasan kesenangan. Namun saat Anda mengajarkannya berpuasa, anak belajar menahan diri. Itulah sebabnya melatih anak berpuasa perlu memperhatikan kesiapan fisik maupun psikologis mereka.

Lalu, bagaimana cara melatih anak agar ikut berpuasa dengan baik dan benar?

Cara Melatih Anak Agar Mau Berpuasa

Berikut adalah tips yang dapat dimanfaatkan Ayah maupun Ibu dalam melatih anak berpuasa.

1. Ceritakan Makna dari Puasa.

Melatih anak berpuasa dapat diawali dengan bercerita kepada mereka tentang makna puasa itu sendiri. Ayah Ibu dapat mengemasnya dalam berbagai cerita yang menarik, termasuk pengalaman Ayah Ibu berpuasa saat masih kecil.

2. Jelaskan Pengertian Puasa.

Anak bisa menerima perubahan jika ia siap menghadapi perubahan tersebut, termasuk saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, Ibu dan ayah perlu menjelaskan pengertian puasa dan mengingatkan pada anak beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai. Gunakan kata-kata sederhana pada anak yang baru memulai pertama kali belajar puasa, seperti tidak makan dan tidak minum setelah sahur sampai waktu berbuka. Ceritakan juga apa saja yang Ayah Ibu lakukan di rumah saat berpuasa, agar anak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Ekspresikan ibadah puasa dengan positif dan menyenangkan, sehingga anak tertarik melakukannya juga.

3. Tawarkan Anak untuk Belajar Berpuasa.

Saat makna dan pengertian puasa telah disampaikan kepada anak, Ibu dan ayah dapat menawarkan anak berpuasa untuk pertama kalinya. Tidak dengan memerintah, namun cobalah dengan menawarkan sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan. Mengajak anak dengan cara yang menyenangkan itu seperti saat mengajak anak bermain. Mengajak anak dengan cara yang membanggakan itu seperti menantangnya melakukan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Pesannya tetap sama, mengajak anak belajar berpuasa.

4. Ciptakan Suasana Berpuasa yang Lebih Menyenangkan.

Selain kesadaran diri, anak juga akan melihat bagaimana orangtuanya berpuasa. Menciptakan suasana berpuasa yang menyenangkan dapat membuat anak ingin bergabung. Ibu dan ayah dapat memulainya dengan sahur yang menyenangkan, dengan persiapan dan waktu yang tidak terburu-buru. Lakukan sahur dengan gembira dan penuh syukur agar anak pun menikmati sahur, dan tidak melihat orangtuanya lesu. Selama seharian berpuasa, tunjukkan pada anak bahwa Ibu dan ayah pun dapat melakukan berbagai kegiatan dengan semangat meskipun tidak makan dan tidak minum.

5. Menyiapkan Makanan yang Tepat.

Makanan yang tepat untuk anak yang belajar berpuasa itu sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Siapkan makanan kesukaan anak yang sekaligus bisa memenuhi kebutuhan energinya. Jika memungkinkan, sajikan di piring favorit anak agar anak semangat makan saat sahur dan buka puasa.

6. Apresiasi Tiap Pencapaian Anak.

Saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya, ia mungkin tak langsung berhasil berpuasa sehari penuh. Anak mungkin hanya bisa bertahan sampai pukul 9 pagi, 12 siang, atau 3 sore. Seberapapun pencapaian anak, beri apresiasi bahwa anak telah berusaha, dari belum pernah berpuasa menjadi berpuasa selama beberapa jam. Saat anak berhasil berpuasa lebih lama di hari berikutnya, apresiasi kemajuannya. Apresiasi adalah upaya menumbuhkan perilaku positif anak, termasuk saat anak belajar berpuasa. Gunakan kata-kata positif yang mengacu pada perilaku spesifik. Jangan menjanjikan hadiah pada anak. Pemberian hadiah hanya akan membuat kenikmatan berpuasa berpindah menjadi kenikmatan mendapat hadiah. (Sumber:temantakita).