Lebih Memahami Penyakit Hidrosefalus

Mungkin masih belum banyak orang tua yang mengetahui tentang kondisi ini. Hidrosefalus, merupakan gangguan kesehatan yang cenderung terjadi pada anak-anak bahkan bayi baru lahir.

Hidrosefalus berasal dari bahasa Latin yaitu Hydros yang artinya air, dan sefalus yang artinya kepala. Jadi Hidrosefalus berarti penumpukan cairan otak yang berlebihan yang menyebabkan kelainan atau gejala kelainan saraf yang dapat hanya sementara atau menetap.

Lebih Memahami Penyakit Hidrosefalus

Hidrosefalus bisa terjadi pada orang-orang dalam segala usia. Namun kasus ini sebagian besar terjadi pada bayi dan lansia. Berdasarkan gejalanya, Hidrosefalus dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:

— Hidrosefalus kongenital (bawaan).

Hidrosefalus kongenital terjadi sejak bayi baru dilahirkan. Bayi yang mengalami Hidrosefalus bawaan, terlihat dari kepalanya yang sangat besar. Ubun-ubun mereka akan tampak menggelembung dan menegang. Dikarenakan kulit kepala bayi yang masih tipis, maka penggelembungan tersebut membuat urat-urat kepala menjadi terlihat dengan jelas. Bayi-bayi dengan Hidrosefalus, memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah dan otot-otot kaki terlihat kaku, serta rentan mengalami kejang. Gejala dari Hidrosefalus bawaan lainnya yaitu mudah mengantuk, mual, rewel, dan susah makan.

— Hidrosefalus yang didapat atau acquired.

Hidrosefalus jenis ini dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Hidrosefalus jenis ini menyebabkan penderitanya mengalami mual dan nyeri leher, nyeri kepala juga akan muncul. Rasa nyeri kepala ini biasanya sangat terasa di pagi hari setelah bangun tidur. Gejala lain dari Hidrosefalus tipe ini adalah mengantuk, penglihatan buram, bingung, sulit menahan kemih atau menahan buang air besar, dan sulit berjalan. Jika tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan koma, hingga kematian.

— Hidrosefalus dengan tekanan normal.

Hidrosefalus jenis ketiga biasanya dialami oleh kaum lansia, yakni di atas 60 tahun. Penderita akan kesulitan menggerakkan kaki, sehingga beberapa dari mereka terpaksa menyeret kaki agar dapat berjalan. Gejala lain yang menyertai kondisi ini adalah kacaunya kendali kemih yang ditandai dengan sulit menahan buang air kecil atau sering merasa ingin buang air kecil. Selain gejala fisik, Hidrosefalus tekanan normal juga berdampak kepada kemampuan berpikir penderita. Mereka akan sulit mencerna informasi dan lambat dalam menanggapi situasi atau pertanyaan.

Mengapa Hidrosefalus bisa terjadi?

Dalam keadaan normal, di kepala sudah diproduksi cairan cerebrospinal yang fungsinya berperan dalam metabolisme otak seperti membersihkan zat-zat sisa di otak dan memberi makanan ke sel-sel otak.

Cairan ini diproduksi kurang lebih 500 ml perhari dan selalu terserap kembali oleh tubuh dengan baik. Dikarenakan berbagai hal, seperti misalnya sumbatan akibat tumor, kekeruhan akibat infeksi, produksi yang terlalu banyak, akan terjadi penumpukan cairan serebrospinal di kepala. Penumpukan cairan ini kemudian dikenal sebagai Hidrosefalus.

Jika Hidrosefalus tidak dengan segera mendapat penanganan, maka dapat berpengaruh pada tertekannya saraf otak, dan efek jangka panjang Hidrosefalus dapat menyebabkan gangguan kecerdasan, kepribadian, epilepsy, serta keterlambatan tumbuh kembang.

Posted by Anak Kita Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *